kesehatan

Jumat, 07 Juni 2013

konsep sehat sakit


http://2.bp.blogspot.com/_wXR18lkmRpI/TG8Of4zhq4I/AAAAAAAAAOM/FZgtvI_BeGc/s320/diagram+sehat-sakit.jpg
A. Latar Belakang.
     Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat menyadari bahwa klien adalah manusia utuh dan unik yang terdiri dari aspek bio, psiko, sosial, dan spritual tuntutan masyarakat akan kwalitas pelayanan perawatan cenderung semakin meningkat. Hal ini membawa dampak yang positif terhadap peran dan fungsi perawat untuk mengantisipasi tuntutan masyarakat mutu pelayanan perawatan.

     Pada pengkajian seringkali perawat hanya memusatkan perhatian pada aspek biologis atau fisiknya saja, sehingga asuhan keperawatan secara konprensif tidak tercapai. Maka dari itu perlunya perawat untuk membekali baik ilmu maupun pengalaman-pengalaman. Sehingga respon klien dapat terkaji lebih dalam dengan tujuan mengenal dan menentukan masalahnya atau kebutuhannya.

a.  Pengertian konsep sehat.
     Sejak dahulu sekitar abad 1 bahwa konsep sehat sakit telah dipergunakan walaupun pengertian masih sangat terbatas. Pada saat ini sehat banyak diartikan dalam kadar yang normal atau lazim yang terjadi pada individu dalam arti bahwa individu tersebut tidak merasakan keluhan sebaliknya sakit diartikan suatu keadaan yang tidak normal atau lazim pada diri seseorang, misalnya adanya keluhan pusing yang tidak tertahankan, panas, dan sebagainya, sehingga pada saat itu dapat disimpulkan bahwa sehat itu bukan dari suatu penyakit.

1. Sehat menurut WHO.
Sehat:  a state of complete physical, mental, and social well being and not merely the absence of illness or indemnity. (sesuatu keadaan yang sejahtera menyeluruh baik fisik, mental, dan social dan tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan).
2.  Sakit adalah suatu kondisi dimana kesehatan tubuh lemah. (Webster’s New Collegiate Dictionary).
3.  Sakit adalah keadaan yang disebabkan oleh bermacam-macam hal, bisa suatu kejadian, kelainan yang dapat menimbulkan gangguan terhadap susunan jaringan tubuh, dari fungsi jaringan itu sendiri maupun fungsi keseluruhan.

Fase-fase sakit:

1.  Fase Latent.
     Seseorang sudah terinfeksi suatu microorganisme, karena badan seseorang baik maka gejala-gejala dan tanda-tanda serta keluhan belum ada, sehingga aktivitas sehari-hari dapat dilakukan / dilaksanakan.

2.  Prodromal.
     Pada fase ini seseorang sudah terdapat peningkatan, bahwa dirinya sakit, seperti tak enak badan atau kadang-kadang lemas.


3.  Akut
     Tanda dan gejala akan bertambah dan semakin lengkap, bentuknya disini klien baru sadar bahwa dirinya sakit, kadang-kadang emosinya tidak stabil dan lekas marah, dan ia hanya mampu memikirkan dirinya sendiri dan penyakitnya.

4.  Resolusi.
     Klien perlu tindakan yang sifatnya mengembalikan fungsi secara normal.


C.  Rentang Sehat Sakit.

1.  Status sehat sakit tidak bersifat mutlak karena sehat-sakit merupakan rentang (jarak)      
2.  Skala akur secara hipotesis dengan mengukur kesehatan seseorang. Uraian diatas menyebutkan bahwa tidak ada standar / ukuran yang pasti untuk mengatakan keadaan seseorang itu sehat sakit.
3.  Dinamis dan Individual.
     Status kesehatan seseorang sifatnya berubah-ubah dan sifatnya individual. Intensitasnya dan mekanisme koping yang dipergunakan.
4.  Jarak sehat optimal             Kematian.

2.  Sehat Menurut Dunn (1959).
     Sehat adalah sesuatu kejadian dimana tidak adanya tanda-tanda dan gejala dari penyakit.

3.  Sehat Menurut Perkin,s.
     Sehat adalah suatu keadaan keseimbangan yang dinamis setara bentuk tubuh dan fungsinya yang dapat mengadakan penyesuaian, sehingga tubuh dapat mengatasi gangguan dari luar.

4.  Sehat Menurut UU No.23 tahun 1992 Tentang Kesehatan.
     Sehat adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

Ada 4 unsur pendatang tentang sehat:

1.  Biologis    : bebas dari penyakit.
2.  Psikologis : sejahtera dan aktualisasi diri.
3.  Sosial       : mampu mangadaptasi tanggung jawab sosial, dan fungsi peran.
4.  Adaptasi   :  mampu beradaptasi terhadap perubahan-perubahan lingkungan.






B.  Pengertian Sakit.
     Pengertian sakit dalam bahasa inggris diartikan illness dan disease perbedaan kedua istilah ini sebagai berikut;
1.    Illness:
·         Konsepnya abstrak.
·         Sifatnya subyektif.
·         Akibat mekanisme koping (pertahanan) tak adekuat.

2.    Disease:
·         Suatu kondisi yang patologis
·         Terdapat sign dan symptom


Ada beberapa pendapat mengenai kondisi sakit sbb:
1.  sakit adalah gangguan dalam siklus hidup. (Imogene King)
2.  sakit adalah suatu keadaan gangguan yang tidak menyenangkan menimpa seseorang sehingga menimbulkan gangguan aktivitas sehari-hari, baik aktivitas jasmani, rohani dan sosial (Perkin’s)
3.  Kriteria sehat menurut WHO, Seseorang dikatakan sehat jiwa:
·         Dapat menyesuaikan diri secara konstruktif pada kenyataan, meskipun kenyataan itu buruk.
·         Memperoleh kepuasan dari usahanya atau perjuangan hidupnya.
·         Merasa bebas secara relatif dari ketegangan dan kecemasan.
·         Dapat berhubungan dengan orang lain secara tolong menolong dan saling memuaskan.
·         Merasa lebih puas untuk memberi dari pada menerima.
·         Dapat menerima kecemasan untuk dipakainya sebagai pelajaran dikemudian hari.
·         Dan akhirnya, tidak kalah pentingnya mempunyai rasa kasih sayang yang besar.
4.  Kriteria sehat-sakit jiwa menurut America Psychiatriy Association.
     Menilai kesehatan jiwa terdiri dati 6 dimensi:
·         Ketidak bahagian.
·         Kehilangan kegembiraan.
·         Ketegangan.
·         Perasaan muda tersinggung.
·         Kurang percaya diri.
·         Keragu-raguan.
5.  Kriteria sehat-sakit mental A. Maslow:
·         Memiliki persepsi realitas yang efektif.
·         Menerima diri, orang lain, lingkungan.
·         Spontan.
·         Sederhana dan wajar.


C.  Sakit.
     Sakit merupakan ketidak seimbangan dari kondisi normal tubuh manusia diantaranya sistem biologik dan kondisi penyesuaian. Sakit menurut Bauman, 1985. mengemukakan tiga kriteria dari keadaan sakit:
·         Adanya gejala
·         Persepsi tentang keadaan yang dirasakan.
·         Kemampuan dalam aktivitas sehari-hari.

D.  Konsep Sehat-Sakit Mental (Jiwa)
     a. beberapa definisi kesehatan mental:
     1.  Menurut Jinis ”kemampuan individu untuk mengatasi sterss secara fungsional dengan baik”.
     2.  Definisi kesehatan jiwa menurut WHO.
          Suatu keadaan yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional seseorang individu secara optimal dan sejauh ini cocok dengan perkembangan optimal individu-individu yang lain.
     3.  Definisi kesehatan jiwa berdasarkan UU No.23 tahun 1992. tentang kesehatan Jiwa Pasal 24 ayat 1 ” Kesehatan jiwa diselenggarakan untuk mewujudkan jiwa yang sehat secara optimal baik intelektual maupun emosional”.

E.  Kondisi sehat jiwa dan kriteria-kriterianya.
     1.  Kondisi sehat jiwa menurut, Maria Johada:
·   Sehat jiwa tak dapat dijelaskan dengan konsep sederhana dan item tunggal dari perilaku tidak adekuat
·   Kriteria untuk menilai sehat jiwa harus dalam bentuk yang operasional dengan sekala dan utama.
·   Masing-masing kriteria dengan rentang.
·   Kriteria sehat jiwa menunjukan kecenderungan kearah sehat atau sakit.
·   Kriteria ini memuat atribut individu.
·   Kriteria sehat jiwa di katakan optimal bukan absolut.

2.    Kriteria sehat jiwa menurut, Maria Johanda:
·   Sikap positif pada diri sendiri, menerima diri sendiri identitas diri yang memadai, penilaian yang realistik terhadap kemampuan dan kekurangannya.
·   Serapan terhadap kenyataan.
·   Integrasi kesatuan kepribadian.
·   Kemampuan pengembangan kemampuan dasar secara fisik, intelegtual, emosional dan sosial.


    






Rentang Dari Fenomena Sehat-Sakit / Mental.

Faktor Predisposisi
(Bio – Psiko – Sosial - Spritual / Kultural)





Faktor Presifikasi / Stressor
(Sifat – Asal – Waktu - Jumlah)





Penilaian Primer Teradap Stressor
(Kognitif – Afektif – Fisiologis – Tingkah laku - Sosial)




Mekanisme Penyesuaian (Koping)
(task oriented – ego oriented)




                     Konstruktif / Adaptif                         Destruktif / Maladaktif





                            Neoritik                                                 Psikotik  
                   Gangguan jiwa ringan                                     ggn jiwa berat
                           (tidak bisa tidur – nafsu makan)              (perbuatan – perasaan - pikiran)














B.  Faktor Persepsi / stressor
·         Sifat stressor dan intensitas.
·         Lama pemaparan stressor.
·         Jumlah stressor yang dihadapi.
·         Pengalaman waktu yang lalu.


C.  Penilai Primer terhadap stressor.
     1.  Kognitif.
     2.  Afektif.
     3.  Fisiologis.
     4.  Tingkah laku.
     5.  Sosial / kultural.

D.  Penilai skunder terhadap sumber.
     1.  kognitif.
     2.  Afektif.
     3.  Respon fisiologis.

V.  Respon Perawat untuk klien dan keluarga.
·         Bantu menurunkan aspek negatif yang membuat klien sakit.
·         Menguatkan proses adaptasi klien untuk memenuhi kebutuhannya.
·         Membantu klien dan keluarga untuk meningkatkan derajat kesehatan secara optimal.
·         Membantu klien dan keluarga bagaimana kalau terjadi dan tindakannya.

4.  Tingkah laku
     Respon tingkah laku akan direfleksikan pada emosi dan perubahan pengalaman dari indifidu, sebagai analisa kognitif terhadap situasi yang menegangkan.


Caplan menggambarkan 4 segi respon individu terhadap kejadian yang menegangkan:
·         Fase pertama adalah perubahan tingkah laku terhadap lingkungan yang menegangkan.
·         Fase kedua adalah tingkah laku untuk mendapatkan kemampuan baru terhadap tindakan untuk merubah lingkungkungan eksternal dan keburukan mereka.
·         Fase ketiga adalah tingkah laku intra psikis untuk mempertahankan emosi yang tidak menyenangkan.
·         Fase ke empat adalah tingkah laku intra psikis yang ada pada kejadian dan sisa pada penyesuaian kembali internal.







5.  Respon sosial.
     Sistem suport sosial yakni:
·         Suport emosi
·         Membantu orientasi tugas.
·         Umpan balik dan evaluasi.
·         Hubungan sosial dan integrasi.
·         Jumlah masukan informasi baru.

E.  Koping / pertahanan diri / mekanisme penyesuaian.
     1.  Konstruktif.
     2.  Destruktif.


IV. Upaya pemeliharaan kesehatan jiwa.
·         Asertif.
·         Solitude (nyepi)
·         Kesehatan diri sendiri.
·         Merawat dan memperhatikan tanda-tanda stress internal.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar