kesehatan

Jumat, 07 Juni 2013

Askep Dyspepsia

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
              Masalah kesehatan yang sering dijumpai di Rumah Sakit maupun di masyarakat terutama pada penyakit sistem pencernaan diantaranya “Dyspepsia”.
              Berdasarkan penelitian pada populasi umum didapatkan bahwa 515.30% yang mencari pertolongan medis. Insident dyspepsia. Di Inggris dan Skandivia dilaporkan angka prevalensinya berkisar 7-4%. Tetapi hanya 10-20% yang mencari pertolongan medis. Insident dyspepsia pertahun diperkirakan antara 1-8% (Suryono, 2001)
              Nyeri atau rasa tidak nyaman di perut atas, umumnya di bawah tulang rusuk di atas pusar, yang disertai kembung, sendawa berlebihan, rasa panas di dada, mual, muntah, dan napas berbau seringkali dianggap enteng. Biasanya penderita hanya minum obat bebas semisal antasida (penawar asam lambung) yang banyak diiklankan.
  Namun, berhati-hatilah. Meski jarang, kumpulan gejala yang dikenal sebagai dispepsia itu bisa jadi merupakan penyakit serius seperti kanker lambung, maupun radang lambung dalam yang bisa menyebabkan kebocoran saluran cerna. Dispepsia tidak memilih usia dan jenis kelamin. Semua bisa terkena. Boleh dibilang satu dari empat orang pernah mengalami dyspepsia suatu saat dalam hidupnya
       Kata dyspepsia berasal dari bahasa Yunani yang berarti “pencernaan yang jelek”. Per definisi dikatakan bahwa dispesia adalah ketidaknyamanan bahkan hingga nyeri pada saluran pencernaan terutama bagian atas.
  Gejala lain yang bisa dirasakan selain rasa tidak nyaman, juga mual, muntah, nyeri ulu hati, bloating (lambung merasa penuh), kembung, bersendawa, cepat kenyang, perut keroncongan (borborgygmi) hingga kentut-kentut. Gejala itu bisa akut, berulang, dan bisa juga menjadi kronis. Disebut kronis jika gejala itu berlangsung lebih dari satu bulan terus-menerus.
Intramuskuler (i.m),Rute IM memungkinkan absorbsi obat yang lebih cepat daripada rute SC karena pembuluh darahlebih banyak terdapat di otot. Bahaya kerusakan jaringan berkurang ketika obat memasuki otot yangdalam tetapi bila tidak berhati-hati ada resiko menginjeksi obat langsung ke pembuluh darah. 
Sehingga penulis tertarik untuk mengagkat kasus tentang manajemen asuhan  keperawatan pada tn.j dengan dypepsia dengan ketrampilan dasar dalam keperawatan memberikan suntikan secara intra muskuler (im)
B. Tujuan
a         Tujuan umum
Mampu menerapkan  manajemen asuhan  keperawatan pada tn.j dengan dypepsia dengan ketrampilan dasar dalam keperawatan memberikan suntikan secara intra muskuler (im)
b        Tujuan khusus
          Mampu melakukan pengkajian pada Tn. J dengan Diagnosa medis Dyspepsia diruang Malikussaleh
1.      Mampu membuat Diagnosa keperawatan menurut prioritas pada pasien
2.      Mampu membuat rencana askep pada pasien Tn. J dengan Diagnosa medis Dyspepsia di ruang Malikussaleh
3.      Mampu menerapkan tindakan keperawatan pada pasien Tn. J dengan Diagnosa medis Dyspepsia di ruang Malikussaleh
4.      Mengevaluasi hasil tindakan keperawatan yang telah di laksanakan sesuai dengan tujuan yang telah diterapka
5.       
C. Manfaat Penulisan
a.       Bagi Penulis
1.      Mengetahui labih jauh lagi tentang penyakit Dyspepsia
2.      Mengetahui askep pada kasus Dyspepsia dengan baik dan benar
b.      Bagi Pendidikan
Sebagai koleksi tambahan buku-buku diperpustakaan dan sebagai kerangka acuan dalam pembuatan Asuhan Keperawatan





BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
      Dyspepsia merupakan kumpulan keluhan / gejala klinis yang terdiri dari rasa tidak enak / sakit di perut bagian atas yang menetap atau mengalami kekambuhan.(Sulaiman,2008)
Dyspepsia merupakan kumpulan gejala yang terdiri dari nyeri ulu hati, mual, kembung, muntah, rasa penuh atau keyang. Dyspepsia merupakan masalah yang sering ditemukan dalam praktik sehari-hari. Keluhan ini sangat bervariasi baik dalam bentuk gejala yang ada maupun gejala dari waktu kewaktu. (Manjoer, 2000)
                   Dyspepsia merupakan rasa tidak enak pada daerah epigastrium yang sering berhubungan dengan makanan, gejalanya seperti ulkus tapi pada pemeriksaan tidak ditemukan ulkus.

B. Etiologi
Menurut Manjoer (2000),  bahwa etiologi Dyspepsia yakni :
1.      Perubahan pola makan
2.      Pengaruh obat-obatan yang dikonsumsi secara berlebihan dan dalam waktu yang lama
3.      Alkohol dan nikotin rokok
4.      Stress
5.      Gastritis
C. Tanda dan Gejala
                        Tanda dan gejala pada dyspepsia yang timbul adalah lebih kurang sama antara satu sama lain. Menurut  Inayah, 2004,Tanda-tanda dan gejala-gejala umum yang dijumpai pada dyspepsia adalah:
a. Ingesti / Tidak bisa makan
b. Anoreksia / Nafsu makan yang berkurang
c. Bersendawa
d. Perut kembung
e. Perasaan lekas kenyang
f. Nausea / Mual
g. Vomitus / Muntah
h. Heartburn / Perasaan seperti terbakar di substernal atau di dada.
i. Nyeri Epigastrik / Nyeri perut bagian atas
j. Rasa masam di mulut

D. Komplikasi
                 Perubahan pola makan yang tidak teratur, obat-obatan yang tidak jelas, zat-zat seperti nikotin dan alkohol serta adanya kondisi kejiwaan stres, pemasukan makanan menjadi kurang sehingga lambung akan kosong, kekosongan lambung dapat mengakibatkan erosi pada lambung akibat gesekan antara dinding-dinding lambung, kondisi demikian dapat mengakibatkan peningkatan produksi HCL yang akan merangsang terjadinya kondisi asam pada lambung, sehingga rangsangan di medulla oblongata membawa impuls muntah sehingga intake tidak adekuat baik makanan maupun cairan.
E. Terapi
Pola makan yang normal, dan teratur, pilih makanan yang seimbang dengan kebutuhan dan jadwal makan yang teratur, sebaiknya tidak mengkonsumsi makanan yang berkadar asam tinggi, cabai, alkohol dan, pantang rokok, bila harus makan obat karena sesuatu penyakit, misalnya sakit kepala, gunakan obat secara wajar dan tidak mengganggu fungsi lambung.
F. Penatalaksanaan
a         Penatalaksanaan Non Farmakologi
1.      Menghindari makanan yang dapat meningkatkan asam lambung
2.      Menghindari faktor resiko sepeti alcohol, makanan yang pedas, obat-obatan yang belebihan, nikotin rokok, dan stress
3.      Atur pola makan
b        Penatalaksanaan Farmakologi yaitu
 Sampai saat ini belum ada regimen pengobatan yang memuaskan terutama dalam mengantisipasi kekambuhan. Hal ini dapat dimengerti karena proses patofisiologinya pun masih belum jelas
Obat-obatan yang diberikan meliputi antasid (metralkan asam lambung) golongan antikolinergik (menghambat pengeluaran asam lambung) dan prokinetik (mencegah terjadinya muntah).
BAB III
TINJAUAN KASUS


A.       Pengkajian

1.      Biodata
a         Identitas Pasien
Nama                              : Tn. J
Umur                              : 46 tahun
Jenis Kelamin                 : Laki-Laki
Suku / Bangsa                 : Aceh / Indonesia
Agama                            : Islam
Pendidikan                      : SMA
Alamat                            : Alue ie puteh, Kab. Aceh utara
2.      Keluhan Utama
Nyeri di perut
3.      Riwayat Kesehatan
a.       Riwayat kesehatan sekarang
Pasien datang ke rumah sakit TNI – AD Lhokseuwe pada jam 22.00 WIB, tanggal  25 Januari 2013 dengan keluhan mulai dan nyeri abdomen di bagian epigastrium dan nyerinya sampai seluruh bagian abdomen nyeri berkisar antara 10 menit. Nyeri bertambah bila pasien banyak bergerak dan nyeri berkurang bila pasien istirahat.
b.      Riwayat kesehatan yang lalu
Pasien belum pernah di rawat tetapi punya penyakit Gastritis
b        Riwayat kesehatan keluarga
Di dalam keluarga pasien tidak ada yang menderita penyakit Dyspepsia seperti yang di alami, oleh klien.
4.      Keadaan Umum
a.       Tingkat kecemasan         : Compos meutis
b.      Tanda-tanda vital
·        Tekanan darah          : 110/70 mmHg
·        Suhu                                     : 34,6 oC
·        Nadi                          : 72 x/ menit
·        Respirasi                   : 20 x / menit
c.       Penampilan umum
Pasien lemah
5.      Pemeriksaan
a.       Kulit
§  Warna kulit               : Sawo matang
§  Tekstur kulit             : Lembab dan kotor
b.      Kuku
§  Keadaan kuku          : Bersih
§  Warna                       : Putih
c.       Kepala
§  Bentik kepala            : Simetris
§  Kelainan                   : Tidak ada kelainan
§  Keadaan rambut       : Bersih
§  Kulit kepala              : Bersih
d.      Mata
§  Sklera                       : Anikterik
§  Konjungtiva              : Ananemis
§  Reflek cahaya                       : Normal, ditandai pada saat dilakukan reflek
  Cahaya mata pasien langsung berkedip
§  Pupil                         : Normal, ditandai ketika ada cahaya pupil
  mengcil
§  Kelainan                   : Tidak ada
e.       Hidung
§  Fungsi penciuman     : Normal, ditandai bisa mencium bau minyak
  Kayu putih
§  Bentuk                      : Simetris
§  Serumen                   : Sedikit
§  Kelainan                   : Tidak ada
f.       Telinga
§  Fungsi pendengaran  : Normal, ditandai bisa mendengar pertanyaan
  Perawat
§  Bentuk                      : Simetris
§  Keadaan                   : Bersih
g.       Mulut
§  Fungsi pengcapan     : Normal, ditandai bisa membedakan rasa asin
                                  dan manis
§  Kebersihan gigi         : Bersih
§  Kelainan bibir           : Tidak ada
h.      Dada dan paru-paru
§  Bentuk                      : Simetris
§  Frekuensi napas        : Normal 20 x / menit
i.        Abdomen
§  Nyeri tekanan           : Ada nyeri tekan pada bagian epigastrium
j.        Genitalia
§  Keadaan rectum        : Bersih
k.      Kekuatan otot
§  Reflek bisep             : Normal, ditandai pada saat diperiksa dengan
  reflek hammer ada pergerakan
§  Reflek trisep             : Normal, ditandai pada saat diperiksa dengan
  reflek hammer terjadi pergerakan
§  Reflek patella           : Normal, ditandai pada saat diperiksa dengan
  reflek hammer terjadi pergerakan
§  Reflek babyn sky     : Normal, ditandai adanya gerakan pada telapak
  kaki saat dilakukan pemeriksaan
6.      Aspek Psiko-Sosial-Spiritual
a.       Aspek Psikologis
Keadaan emosi pasien stabil, tetapi pasien mengatakan bosan dan jenuh berada di Rumah Sakit.
b.      Aspek Sosial
Pasien bersosialisasi baik dengan lingkungan dan keluarga terbukti dari saudara yang membesuk pasien, pasien pun mampu bekerja sama dengan tim medis atau pun tim kesehatan lainnya.
c.       Aspek Spritual
Pasien seorang muslim, pasien melakukan shalat 5 (lima) waktu, tetapi semenjak pasien dirawat di rumah sakit, pasien tidak melaksanakan shalat. Pihak keluarga juga menyakinkan bahwa penyakit pasien adalah cobaan dari Allah SWT. Penyakitnya juga akan sembuh dengan diiringi do’a.

B.       Pemeriksaan diagnostic

No
Tanggal
Jenis Pemeriksaan
Hasil
Nilai Normal
1.
25 Januari  2013
Haematokrit
31.3
37.43 %


Thrombosit
209.000
200.000-500.000/mm3


Lekosit
20.500
5.00-10.000/ mm3


Haemaglobin
12,8
12.169   







C.  Terapi
No
Hari Tanggal
Nama Obat
Dosis Yang
Diberikan
1.
26
Januari 2013
Novalgin
3 X 1 amp


Terfacef
2 X 1 amp


Antrain
3 X 1 amp


Acrov
2 X 1 amp


Infus D5
30    tts / i


Analisa Data

No.
Data
Etiologi
Masalah
1.
DS:
Pasien mengeluh nyeri epigastrium
Iritasi mukasa lambung
Gangguan rasa nyaman nyeri

DO:
-          Wajah pasien terlihat meringis menahan sakitnya
-          TD : 72 x / menit
-          S : 34.6 0C
2.
DS:
Pasien mengatakan mulai dari pertama kali datang tidak nafsu makan
Peningkatan asam lambung
Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

DO:
-          Keadaan umum pasien masih lemah, bibir kering, dan pecah-pecah
-          Porsi makan tidak habis
-          Tampak mual-mual



D.       Diagonasa Keperawatan
1.      Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan iritasi mukosa lambung
2.      Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan asam lambung.




  1. Perencanaan/Intervensi
No.
Diagnosa Keperawatan
Tujuan
Perencanaan
Intervensi
Implementasi
Evaluasi
1.
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan intasi pada mukosa lambung .
Hilangnya rasa nyeri dengan criteria :
1.       Nyeri hilang
2.       Pasien tidak meringis menahan sakit lagi
3.       Kaji frekuensi nyeri
4.       Berikan istirahat dengan posisi semi fowler
5.       Anjurkan pasien untuk menghindari makanan yang dapat meningkatkan kerja asam lambung
6.       Berikan kompres hangat pada bagian abdomen
7.       Mengkaji frekuensi nyeri
8.       Menganjurkan istirahat dengan posisi semi fowler
9.       Menganjurkan pasien untuk menghindari makanan yang dapat meningkatkan kerja asam lambung
10.    Memberikan kompres hangat bagian abdomen
S:
O:



A:
P:
Pasien menyatakan nyeri berkurang
Wajah tampak sedikit tenang
TD : 110/70 MmHg
N    : 72 x / menit
S     : 34.6 0C
Masalah sebagian teratasi
Lanjutkan intervensi

DS:
DO:
Pasien mengeluh nyeri epigastrium
Wajah klien terlihat meringis menahan sakitnya
TO : 110/10 mmHg
N   : 72 x/ menit
S    : 34.6 0C

2.
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Sehubungan dengan peningkatan asam lambung.
Nutrisi terpenuhi dengan criteria :
11.    Porsi makan habis
12.    Pasien tampak segar
13.    Anjurkan makan sedikit demi sedikit tapi sering
14.    Kaji kebutuhan nutrisi pasien
15.    Sajikan makanan yang bervariasi
16.    Sajikan makan yang masih hangat
17.    Sajikan makanan kesukaan pasien
18.    Menganjurkan makan sedikit demi sedikit
19.    Menyajikan kebutuhan nutrisi
20.    Menyajikan makanan yang bervariasi
21.    Menyajikan makanan yang masih hangat
S:

O:

A:
P:
Pasien mengatakan bahwa nafsu makan mulai bertambah
Klien tampak tidak lemas lagi terbukti makannya habis 1 porsi
Masalah teratasi
dipertahankan

DS:

DO:
Pasien mengatakan mulai dari pertama kali datang tidak nafsu makan
22.    Keadaan umum pasien masih lemah, bibir kering dan pecah-pecah
23.    Porsi makan tidak  habis
24.    Tampak mual-mual


BAB IV
KETRAMPILAN DASAR DALAM KEPERAWATAN DENGAN PEMBERIAN SUNTIKAN INTRAMUSKULER (IM)
                                                                                                
A.      Pengertian IM
Intramuskuler (i.m),Rute IM memungkinkan absorbsi obat yang lebih cepat daripada rute SC karena pembuluh darahlebih banyak terdapat di otot. Bahaya kerusakan jaringan berkurang ketika obat memasuki otot yangdalam tetapi bila tidak berhati-hati ada resiko menginjeksi obat langsung ke pembuluh darah. 
B.       Tujuan IM
pemberian obat dengan absorbsi lebih cepat dibandingkan dengan subcutan

C.      Manfaat IM
        2.2      Pasien mendapatkan pengobatan  sesuai program pengobatan dokter.
        2.3      Memperlancar proses pengobatan dan menghindari kesalahan dalam pemberian obat.
        2.4      Membantu menentukan diagnosa terhadap penyakit tertentu (misalnya tuberculin tes).
        2.5      Menghindarkan pasien dari efek alergi obat ( dengan skin test).



A.      Tempat penyuntikan
untuk penyuntikan :
1. Deltoid/lengan atas
2. Dorso gluteal/otot panggul
3. Vastus lateralis
4. Rektus femoralis
Daerah tersebut diatas digunakan dalam penyuntikan dikarenakan massa otot yang besar, vaskularisasi yang baik dan jauh dari syaraf.

B.       Persiapan bahan dan alat
        2.6      Persiapan alat :
1. Handscoon 1 pasang
2. Spuit steril 3 ml atau 5 ml atau spuit  imunisasi
3. Bak instrument
4. Kom berisi kapas alcohol
5. Perlak dan pengalas
6. Bengkok
7. Obat injeksi dalam vial atau ampul
8. Daftar pemberian obat
9. Kikir ampul bila diperlukan
        2.7      10.waskom larutan klorin 0,5 %
        2.8      11.tempat cuci tangan
        2.9      12.handuk/lap tangan
    2.10      13.kapas alkohol

A.      Prosedur pelaksanaan
a  Fase orientasi
1. Salam terapeutik
2. Evaluasi/ validasi
3. Kontrak

b. Fase kerja
1. Siapkan peralatan ke dekat pasien
2. Pasang sketsel atau tutup tirai untuk menjaga     privasi pasien
3. Cuci tangan
4. Mengidentifikasi pasien dengan prinsip 5 B (Benar obat, dosis, pasien, cara pemberian dan waktu)
5. Memberitahukan tindakan yang akan dilakukan
6. Letakkan perlak dan pengalas dibawah daerah yang akan di injeksi
7. Posisikan pasien dan bebaskan daerah yang akan disuntik dari pakaian pasien
8. Mematahkan ampula dengan kikir
9. Memakai handscoon dengan baik
10. Memasukkan obat kedalam spuit sesuai dengan advice dokter dengan teknik septic dan aseptic
11. Menentukan daerah yang akan disuntik
12. Memasang pengalas dibawah daerah yang akan disuntik
13. Hapushamakan daerah penyuntikan secara sirkuler menggunakan kapas alcohol 70% tunggu sampai kering
14. Mengangkat kulit sedikit dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri (tangan yang tidak dominant)
15. Baca basmallah dan Tusukkan jarum ke dalam otot dengan jarum dan kulit membentuk sudut 90̊
16. Lakukan aspirasi yaitu tarik penghisap sedikit untuk memeriksa apakah jarum sudah masuk kedalam pembuluh darah yang ditandai dengan darah masuk ke dalam tabung spuit (saat aspirasi jika ada darah berarti jarum mengenai pembuluh darah, maka cabut segera spuit dan ganti dengan spuit dan obat yang baru). Jika tidak keluar darah maka masukkan obat secara perlahan-lahan
17. Tarik jarum keluar setelah obat masuk (pada saat menarik jarum keluar tekan bekas suntikan dengan kapas alcohol agar darah tidak keluar)
18. Lakukan masase pada tempat bekas suntikan (pada injeksi suntikan KB maka daerah bekas injeksi tidak boleh dilakukan masase, karena akan mempercepat reaksi obat, sehingga menurunkan efektifitas obat.
19. Rapikan pasien dan bereskan alat (spuit diisi dengan larutan chlorine 0,5% sebelum dibuang)
20. Lepaskan sarung tangan rendam dalam larutan chlorine
21. Cuci tangan

c. Fase terminasi
1. Evalusi respon klien terhadap tindakan yang dilakukan
2. Rencana tindak lanjut
3. Kontrak yang akan datang














PENUTUP
A.      Kesimpulan
          Dyspepsia merupakan kumpulan keluhan / gejala klinis yang terdiri dari rasa tidak enak / sakit di perut bagian atas yang menetap atau mengalami kekambuhan.
Tanda-tanda dan gejala-gejala umum yang dijumpai pada dyspepsia adalah:
a. Ingesti / Tidak bisa makan
b. Anoreksia / Nafsu makan yang berkurang
c. Bersendawa
d. Perut kembung
e. Perasaan lekas kenyang
f. Nausea / Mual
g. Vomitus / Muntah
h. Heartburn / Perasaan seperti terbakar di substernal atau di dada.
i. Nyeri Epigastrik / Nyeri perut bagian atas
j. Rasa masam di mulut

B.       Saran
Kritikan yang sehat dan bersifat membangun sangat diharapkan penulis untuk mencapai kesempurnaan dalam proses belajar disiplin ilmu keperawatan (obstetri). Sehingga nanti benar-benar dapat diterapkan dalam dunia kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddart,Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8 Vol. 2 Jakarta,
EGC, 2002

Elizabeth J.Corwin Buku Saku Patofisiologi. Penerbit EGC ; tahun 2009

Inayah Iin, Asuhan Keperawatan pada klien dengan gangguan sistem
pencernaan, edisi pertama, Jakarta, Salemba Medika,2004

Manjoer, A, et al, Kapita selekta kedokteran, edisi 3, Jakarta, Medika
Aeusculapeus,2000

Sujono, Hadi, Gasroenterologi , Edisi 7 , P.T. Alumni .Bandung :2002

Sulaiman, Ali H, Gastroenterologi, CV. Informedika, Jakarta: 2008








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar